Kamis, 22 Mei 2014

AWAL PEMBANGUNAN KOTA BANDUNG

MASA AWAL PEMBANGUNAN KOTA BANDUNG (1810-1917)
 
Sementara pusat pemerintahan Kabupaten Bandung berkembang di Krapyak (Dayeuhkolot), Kondisi Cekungan Bandung pada peralihan abad ke-19 masih dipenuhi hutan lebat dan rawa-rawa. Bagi Bupati Bandung saat itu, Raden Wiranatakusumah II (1794-1829), lokasi Krapyak sebagai ibu kota Kabupaten Bandung dianggap kurang strategis dan menguntungkan. Terdorong untuk mencari lokasi baru, R.A Wiranatakusumah II dan rakyatnya menjelajahi daerah utara. Berdasarkan data dari berbagai sumber, pembangunan fisik kota Bandung dilakukan rakyat Bandung di bawah pimpinan R.A. Wiranatakusumah II, sehingga dapat dikatakan bahwa R.A. Wiranatakusumah II sebagai bapak pendisi (the founding father) kota Bandung.

Saat yang sama, Gubernur Jendral Hindia Belanda, Herman Willem Daendels (1018-1811), yang berkedudukan di Batavia, berencana membangun jalan raya di Pulau Jawa. Tujuan pembangunan jalan itu adalah untuk mempertahankan Pulau Jawa dari kemungkinan serangan pasukan Inggris. Jalan tersebut akhirnya dibangun sepanjang lebih kurang 1.000 Km, menghubungkan Anyer di barat Jawa dengan Panarukan di timur Jawa. Pembangunan berlangsung antara 1808 hingga 1811.

Inspirasi mengawali sejarah kota Bandung, Daendels bercita-cita membangun sebuah kota di Dataran Tinggi Parahyangan. Ketika proyek Jalan Raya Pos (Ide Groote Postweg) yang dikepalainya masuk daerah ini, Daendels mencari lokasi bagi ibu kota Kabupaten Bandung yang baru dan menetapkan lokasi Kota Bandung sekarang sebagai kota yang diinginkannya. Penetapan tersebut dilakukan melalui surat keputusan tertanggal 25 September 1810 (yang ditetapkan sebagai hari jadi Kota Bandung hingga sekarang). Daendels bersepakat dengan Raden Wiratakusumah II untuk memindahkan lokasi pemerintahan yang lama ke Alun-alun.

Konsep alun-alun sendiri mengacu pada pusat kota tradisional di Pulau Jawa. Berasal dari pengaruh Kerajaan Mataram, yaitu konsep Catur Gatra Tunggal, Alun-alun selalu dibatasi masjid di sisi barat, penjara di sisi utara, pasar di sisi timur, dan pusat pemerintahan di sisis selatan. Alun-alun sendiri merupakan lahan persegi di pusat kota yang menjadi sentra sosial dan budaya masyarakat kota. Kini, beberapa bangunan dengan nilai paling pertama masih berdiri di sekitar Alun-alun dan jalan Asia Afrika.

Perkembangan Kota Bandung awalnya berjalan lambat. Baru memasuki 1840-an, pembangunan mulai tampak. Hal tersebut terutama dipicu oleh keuntungan yang didapat dari penjualan hasil perkebunan yang diupayakan Pemerintah Hindia Belanda di daerah sekitar Bandung. Hasil perkebunan utama diekspor ke Eropa saat itu mencakup kopi, teh, kina dan karet.

Dataran tinggi priangan sendiri tertutup bagi semua orang asing (mencakup semua orang eropa nonpemerintah dan Tionghoa, bahkan etnis pribumi sekalipun). Hanya mereka yang mendapat izin dari Residen Priangan yang diperbolehkan masuk ke wilayah Priangan, Orang asing yang ingin bepergian dalam wilayah Priangan hasrus memiliki surat pas jalan (Passenstelsel). Peraturan tersebut sejalan dengan rencana monopoli Pemerintah Hindia Belanda terhadap lahan dan hasil bumi di Hindia Belanda, dalam upaya mengisi kekosongan kas Kerajaan Belanda.

Sebagai konsekuensi dari penerapan peraturan tersebut, perkembangan ekonomi di kota Bandung menjadi sangat lambat. Selama paruh pertama abad ke-19, Bandung masih merupakan sebuah desa kecil di Dataran Tinggi Priangan. Dari sisi fungsi, Bandung merupakan pusat pemerintahan kabupaten yang berada dalam lingkungan Keresidenan Priangan yang berpusat di Cianjur serta pusat pendidikan untuk daerah Priangan. 

Sumber: Telusur Bandung -Teguh Amor Patria
 

Copyright © Hotel di Bandung | HDG Team | Powered by Blogger | Design By Hotel di Garut