Kamis, 22 Mei 2014

Sejarah Danau Purba Besar Bandung


SEJARAH GEOLOGIS: DANAU PURBA BESAR
Cekungan Bandung memiliki sejarah yang unik dan luar biasa, bahwa lokasi kota Bandung berdiri sekarang pernah berupa sebuah danau purba besar.

Danau purba Bandung terbentuk akibat sebuah proses geologis yang dimulai pada Zaman Kuarter, sekitar 135.000 tahun lalu. Penelitian menunjukan bahwa Gunung Sunsa 3.500-4.000 mdpl), yang terletak di utara cekungan Bandung, pernah meletus dengan hebatnya sebanyak 2 kali (105.000 dan 55.000) tahun lalu). Letusan keduanya tidak saja menyebabkan gumumh itu rumtuh dan membentuk kaldera, tetapi lahar dan material letusannya membendung aliran sungai Citarum. Di suatu tempat bernama lembah Sungai Cimeta, di sebelah utara Padalarang sekarang, lava Gunung Sunda tertahan.

Aliran air sungai Citarum pun terhalang sehingga menggenangi cekungan Bandung (konon menurut satu versi, dari fakta terbendungnya air sungai inilah nama Bandung berasal, yaitu “Bendung”. Sedangkan versi lain mengacu pada kata “ngabandung”, yang menggambarkan kondisi danau purba Bandungyang menyerupai dua buah danau yang saling berhadapan karena terbagi perbukitan di daerah Cimahi). Akhirnya terbentuklah danau besar yang disebut orang zaman dulu “situ Hyang” (yang berarti Danau Para Dewa).

Situ Hyang membentang memenuhi cekungan Bandung, yang dikelilingi perbukitan dan pegunungan dari Padalarang di sisi barat hingga Cicalengka di sisi timur kurang lebih 50 Km, dan dari bukit Dago di utara hingga perbatasan Soreang dan Ciwidey di selatan (30 km), dengan ketinggian 700-725 mdpl. Konon, dasar sungai terdalam adalah 100 meter (di Dayeuhkolot). Selama ribuan tahun danau ini bertahan, hingga akhirnya lava yang mengeras di lembah Sungai Cimeta tidak sanggup lagi menahan beban air danau hingga pecah. Dalam kurun waktu 16.000 hingga 3.000 tahun yang lalu, air Situ Hyang menyurut dalam 2 periode. Periode pertama melalui daerah Cimeta, dan kedua melalui terowongan alam Sanghyang Tikoro (Tenggorokan Para Dewa), menembus perbukitan Rajamandala di sebelah barat Batujajar sebelum berakhir di wilayah Waduk Cirata.

Sisa Danau Purba Bandung masih dapat disaksikan hingga awal abad ke-19. Hingga masa itu, masih banyak terdapat rawa-rawa di cekungan Bandung, seperti di Ranca Oray, Ranca Buntu, Ranca Ekek, dan Ranca Badak. Mengacu pada nama terakhir disebut, konon banyak terdapat badak yang berkubang di daerah itu sehingga keberadaannya diabadikan melalui patung badak putih di Taman Balai Kota Bandung sekarang. Cekungan Bandung merupakan tempat yang kaya akan hewan buruan bagi manusia prasejarah Bandung.

Adapun keberadaan masunia prasejarah di Bandung diperkirakan bermula di Goa Pawon, bagian dari perbukitan kapur di barat Bandung, sekitar 10.000 tahun lalu. Dalam kurun waktu 7.000 tahun, masyarakat prasejarah ini menyebar ke sekeliling cekungan Bandung. Sebuah situs yang kaya akan penemuan artefak adalah Goa Pawon. Di situs ini ditemukan berbagai artefak dari masa Mesolitik dan Neolitik, yang digunakan manusia purba Bandung untuk berburu dan menunjang kehidupan sehari-hari. Umumnya, penemuan tersebut berupa alat-alat batu obsidian seperti mata tombak dan panah. Bahkan, di Goa Pawon ditemukan juga fosil manusia prasejarah pertama dan satu-satunya yang ditemukan di Jawa bagian barat.

Sumber: Telusur Bandung -Teguh Amor Patria
 

Copyright © Hotel di Bandung | HDG Team | Powered by Blogger | Design By Hotel di Garut