Selasa, 15 September 2015

Kawah Tangkuban Perahu Bandung

Kawah Tangkuban Perahu Bandung merupakan salah satu tempat yang cukup populer saat ini, pada saat weekend biasanya ribuan pengunjung datang dan menikmati suasana alam di Kawah Tangkuban Perahu, ini menyebabkan tingkat kunjungan dan okupansi ke Hotel di bandung meningkat.


 Cerita cinta terlarang pada Sangkuriang serta Nyi Dayang Sumbi meninggalkan kehadiran Gunung Tangkuban Perahu. Danau luas nan indah yang dilengkapi dengan kapal pesiar yang megah, tidak berhasil dikerjakan dengan cara selesai dalam satu malam jemu oleh Sangkuriang atas tipu muslihat Dayang Sumbi yang memanglah tak inginkan kesuksesan kekasih sekalian putra kandungnya untuk menikah dengan dianya. Dengan kemarahan yang sangatlah mencapai puncak, Sangkuriang menendang kapal pesiar megahnya sampai terbalik serta membatu jadi suatu gunung. Gunung yang memanglah tampak dari Bandung laksana kapal terbalik tersebut yang saat ini dikenang juga sebagai gunung Tangkuban Perahu.

Tangkuban Perahu menjulang tinggi lebih kurang 25 km di samping utara kota Bandung. Gunung Tangkuban Parahu memiliki ketinggian seputar 2. 084 mtr.. Bentuk puncak gunung ini yaitu stratovulcano dengan pusat erupsi yang berpindah-pindah. Type batuan yang dikeluarkan lewat letusan umumnya yaitu lava serta sulfur. Mengenai mineral yang dikeluarkan yaitu sulfur belerang, dan mineral yang dikeluarkan waktu gunung tak aktif yaitu uap belerang. Suhu rata-rata hariannya yaitu 17 oC pada siang hari serta 2 oC saat malam hari. Keadaan inilah yang jadikan alam Tangkuban Perahu sangatlah sejuk serta jadi dambaan beberapa pengunjung yang rata-rata datang dari daerah perkotaan yang telah sangatlah sumpek serta panas.

Menelusuri kota Lembang di Kabupaten Bandung Barat, Tangkuban Perahu bisa diraih lewat jalur Lembang-Subang sejauh seputar 10 km atau 30 menit perjalanan kendaraan bermotor. Perjalanan bakal sangatlah menyejukkan mata serta hati lantaran suguhan panorama lokasi ladang sayur-mayur yang menghijau di tepian jalan. Selepas daerah Cikole, pengunjung bakal disajikan pemandangan pohon pinus yang berjajar rapi di kanan-kiri jalan membuat pagar betis rimba hijau yang sangatlah rindang. Inilah kemewahan yang sangatlah susah didapati di lokasi perkotaan.

Selepas perjalanan 7 km dari Lembang bakal didapati percabangan jalan, samping kanan menuju pemandian air panas Ciater di Subang, serta segi kiri menuju lokasi Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu. Jalan segi kiri ini mulai lebih menanjak serta berkelak-kelok dengan pojok yang makin tajam. Akan tetapi, jalan berliku serta menanjak seolah tak merasa berat lantaran keadaan jalan beraspal yang halus nan mulus. Sesudah sebagian waktu, pengunjung bakal temukan gapura pintu masuk lokasi Tangkuban Perahu. Di sinilah pengunjung mesti beli ticket masuk seharga Rp. 15. 000, 00 per orang. Di seputar gapura ini terlihat sebagian kawanan kera liar menyongsong tiap-tiap tamu yang datang dengan keramahannya untuk sebatas meminta kacang maupun pisang rebus dari pengunjung.

Menyusuri jalan naik serta menanjak, pengunjung bakal nikmati sensasi bau belarang yang makin lama bakal makin merasa menyengat hidung. Sekian waktu pada awal mulanya, Tangkuban Perahu baru alami fase penambahan kesibukan magma di basic kawahnya hingga pernah menyandang status siaga serta sangat terpaksa ditutup sekian hari untuk kunjungan wisatawan. Saat ini status gunung ini telah kembali aktif normal, hingga beberapa wisatawanpun bisa mengunjunginya seperti umumnya.

Tidak seberapa lama menapaki jalanan menanjak tajam, jejeran parkiran di segi kawah Ratu bakal selekasnya menghamparkan panorama bibir kawah maha luas nan dalam yang dipagari beberapa ribu pengunjung di selama segi tepiannya. Inilah pesona keindahan gunung Tangkuban Perahu. Wisatawan yang bertandang ke object ini datang dari beragam daerah di seputar Bandung, seperti Jakarta, Indramayu, Cirebon, sampai propinsi lain seumpama Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan juga ada yang dari Kalimantan serta Maluku. Tidak ketinggalan beberapa turis asing ikut kagum pada anugerah alam yang indah ini. Ketika saya kesana, banyak rombongan dari China, Jepang, India serta sebagian turis Eropa serta Australia. Pesona Tangkuban Perahu memanglah telah mendunia.

Juga sebagai lokasi wisata yang berkelanjutan untuk menjamu beberapa tamu dengan “sapta pesonanya”, Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu sudah melengkapi diri dengan beragam sarana penunjang, dari mulai parkiran yang luas untuk mobil ataupun motor, gardu pandang, pusat infomasi, fasilitas MCK, lokasi souvenir serta oleh-oleh khas, dan masjid untuk beribadah ummat Islam. Aneka souvenir khas Tangkuban Perahu yang bisa dibawa oleh wisatawan di antara aneka kaos, slayer, selendang, jaket, pakaian hangat, syal dengan hiasan lukisan khas Tangkuban Perahu. Anda dapat juga beli aneka macam hasil kerajinan batu-batuan berbentuk tasbih, kalung, cincin, gelang, bahkan juga di jual juga berbagai senjata tradisional, seperti golok serta kujang.

Juga sebagai daerah maksud wisata yang populer, Tangkuban Perahu benar-benar sangat menakjubkan. Pesona itu sedikit ternoda oleh ketiadaan akses transportasi umum yang murah serta mencukupi. Untuk Anda, beberapa backpaker yang mau menuju kesana memakai kendaraan umum, jadi Anda mesti siap dengan ketidakjelasan info serta tarif yg tidak murah. Dari Lembang, kelihatannya tak ada trayek spesial yang melayani jalur Lembang – Tangkuban Perahu. Dari Lembang, kita bisa naik omprengan plat hitam jurusan Lembang – Subang yang siap mengantarkan penumpang sampai obyek wisata. Walau demikian standard tarif yg tidak terang mengharuskan kita harus sangatlah hati-hati serta berani menawar harga yang di tawarkan. Untuk sekali perjalanan, tiap-tiap penumpang ditarik 50 – 60 ribu rupiah dengan iming-iming telah komplit dengan ticket masuk. Di samping naik omprengan, Anda dapat juga naik angkot warna kuning jurusan Cikole dengan system tarif yg tidak jauh tidak sama.

Dapat naik ke kawah Tangkuban Perahu dengan kendaraan umum, lantas bagaimanakah Anda turun kembali? Ada omprengan yang tawarkan paket pulang-pergi dengan menunggui pengunjung sampai selesai nikmati panorama Tangkuban Perahu. Bila Anda pilih untuk sekali jalan saja, jadi di parkiran umumnya juga banyak omprengan yang ngetem menanti “mangsa”. Sekali turun, penumpang bakal dikenakan tarif “taksi” 70 ribu untuk hingga di Lembang. Tawar-menawar? Janganlah berharap mereka bakal bergeming. Harus, sukai tak sukai pada akhirnya pengunjung mesti nurut system mereka.

Sungguh disayangkan memanglah, maksud wisata setenar Tangkuban Perahu tak dapat memberi kenyaman untuk pendatang perorangan atau rombongan kecil. Apakah untuk datang ke Tangkuban Perahu mesti memakai kendaraan pribadi atau dalam rombongan besar? Kelihatannya pihak pemerintah daerah ataupun pengelola wisata mesti sungguh-sungguh pikirkan pemecahan penyediaan fasilitas transportasi umum yang menjangkau sampai lokasi wisata dengan tarif yang terjangkau. Seluruhnya rakyat, kaya serta miskin, keduanya sama mempunyai hak untuk nikmati pesona Tangkuban Perahu yang sudah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa.

Diluar pengetahuan orang-orang biasanya, nyatanya lokasi Tangkuban Perahu telah tak akan ada di lokasi kota Bandung, Kabupaten Bandung, ataupun Kabupaten Bandung Barat. Lokasi Tangkuban Perahu, dengan cara administrasi, nyatanya beberapa besar malah telah ada di lokasi Kabupaten Subang. Tetapi apa bisa dikata, kesalah-kaprahan pemahaman umum memanglah susah untuk diluruskan. Hal yang sama berlangsung juga dengan candi Borobudur di Magelang yang dikira ada di Jogjakarta, ataupun lokasi Dieng yang beberapa wilayahnya ada di Kabupaten Banjarnegara namun orang-orang lebih meyakini ada di Kabupaten Wonosobo.
 

Copyright © Hotel di Bandung | HDG Team | Powered by Blogger | Design By Hotel di Garut